Oleh: Wahyu Barata PW | Januari 17, 2019

14 NOVEMBER 2003

senja itu…

awan hitam dan keraguan jatuh ke pucuk pohon cemara;

rintihan guruh merambat perlahan pada suram cuaca,

kian meradang di paru-paru kota;

lalu rintik hujanpun membasahi luka yang semakin menganga…

sepi dan kelam memagut lara yang mengendap di rabu sang waktu;

kabut mematri duka di setiap sisi ruang batinku;

ketika cinta kandas…dihempas prahara

setelah dusta menjadi angkara,

dan sia-sia belas kasih menghampa…tersisih di kegelapan

seperti sakit yang membuatmu layu, merapuh, tak berdaya rebah terkunci dalam

pasungan

seperti keikhlasan dan dosa yang semakin berkarat di lubuk hatiku

seperti durjana yang menebar pesona di hari mati

ketika nista dan prasangka mengkhianati restu Ilahi

ketika berjuta harapan menghilang dari sisa impianmu

ketika maut merenggut jiwa petualang tua di titik nol…




Iklan
Oleh: Wahyu Barata PW | Januari 17, 2019

ELEGI UNTUK FLAMBOYAN TUA

cuaca di sepanjang musim kering

selalu memusnahkan bening embun…

hingga kau tak bisa mereguk sisa ha-

rapan itu

di tengah padang dan habitat yang

bukan milikmu lagi,

meranggas, dahagakan curah hujan

membasuh dirimu

di tubuhmu

daun dan bunga berguguran dari

ranting-ranting rapuh,

getah sering kali mengeruh dicemari

udara bertuba

setelah langit menebarkan debu-debu

noda gejolak nafsu duniawi yang me-

rambahi nadi-nadi kehidupan

oh pohon yang semakin renta dan ter-

campak di tempat amanah-cinta terku-

bur sejak bertahun-tahun silam,

masih sanggupkah kau menjalani ke-

nyataan ini…?

2003.




Oleh: Wahyu Barata PW | Januari 17, 2019

CATATAN UNTUK FLAMBOYAN TUA

di tubuhmu

daun dan bunga berguguran dari ranting-ranting

yang merapuh

getah sering kali berganti warna

setelah suka duka kausembunyikan di antara

sepi dan cuaca yang menyusuri musim-musim

di jiwamu

sisa-sisa kenangan melukiskan perjalanan hidup

yang kautempuh telah terlindas gejolak nafsu duniawi.

oh diri yang semakin merenta dan terasing…

di tengah padang dan kemerdekaan yang bukan milikmu lagi,

masih sanggupkah kau tegar berdiri di sudut masa?

2003.




Oleh: Wahyu Barata PW | Januari 17, 2019

CITA

air mengalir pecah-pecah

gemercik menembus ke luka tanah yang

kian meradang

harga diri telah lama jatuh dan hanyut

bersama limbah-limbah peradaban.

di tepi sungai kawanan itik berebut sam-

pah-sampah kematian.

ketika angin terima janji-janji racun birahi.

“Bersucilah, pada sisa-sisa kesejatian!”

ajaib!

mata air jernih

seketika berkuasa mengikis angkara

sampai jauh ke ujung harapan

dahaga suka citapun terobati

di gunung

di lembah

di hutan

di sungai

dan di ladang jiwa

“Berenang bebas ke mana suka!”

arus air mengantar sejarah ke masa depan.

(ternyata di alam ini ada juga sumber kebijak-

sanaan, meski hari yang berganti pagi masih

terkunci dalam mimpi).

2003.




Oleh: Wahyu Barata PW | Januari 8, 2019

BELAJAR KEBIASAAN CINA

Perunggu jatuh buah berangan rontok pudar oleh hujan

tikus-tikus ongkos eksploitasi mengejutkan malam

Buku-buku surat-surat tak tertulis tertutup sekat

wajah girang

perjalanan dingin untuk membuat

tempat tidur dingin.

                                                (Libby Houston)

Puisi berjudul Belajar Kebiasaan Cina ini adalah karya Libby Houston yang di terjemahkan oleh Wahyu Barata dari The Poetry book society anthology dan di sunting oleh David Constantine. 
Puisi karya para penyair  Hutchinson ini edisi pertamanya dipublikasikan tahun 1988 oleh Hutchinson, an imprint of Century Hutchinson Ltd., Brookmount House, 62-65 Chandos Place, London WC2N4NW, dan oleh The Poetry Book Society Ltd.,21 Earl Court Square, London


 

Oleh: Wahyu Barata PW | Januari 8, 2019

MANUSIA BULAN

Tadi malam kuberjalan dibawah bulan,

Salah satu bayangan hijaunya, mataku

Gambaran dari bulan dingin

Lebih bulat dari bulan purnama, lebih dingin

Dari es yang diingat, terbakar

Dengan semangat steril kulit

Dari jalur kuberjalan. Aku tahu

Itu akan berkurang, dikupas

Sabit yang dikenali, tetapi katanya

Itu harus tumbuh lagi dalam waktu jatuh temponya

Lebih dengan dinginnya terik untuk es

Ramping yang akan datang. Aku tak berpikir

Bagaimana aku, juga, memakai saat kau berpaling

Sinar mataharimu, apakah hanya besar

Pada bulan purnama cintamu.

Puisi Leslie Norries yang berjudul Manusia Bulan (Moon Man) diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Wahyu Barata PW. dari buku kumpulan puisi karya Leslie Norries yang berjudul Water Voices. Buku kumpulan puisi ini diterbitkan oleh Chatto and Windus Ltd. with The Hogarth Press Ltd. 40 William IV  Street London WC24DF.Clarke, Irwin & Co Ltd. Toronto.

Lesliie Norries mempublikasikan puisi-puisinya di The Athlantic Monthly, The Anglo-Welsh Review, Delta, Limestone, The London Magazine, The New Statesmen, The New Yorker, PEN New Poems 1973-1974, 1976-1977, Poetry Nothwest, Poetry Wales, The Scotsman and The Poetry Book Society Supplement for Christmas ’75, juga di BBC, ITV, The Globe Play House Trust, The South East Arts Association, Poetry Dimension and The Tidal Press Maine.

“At The Sea ‘s Edge in Pembrokeshire” ditugaskan untuk Perayaan Ulang Tahun ke 900 Katedral Winchester.

Dalam puisi-puisi yang ditulisnya mennujukkan hidup Leslie Norries penuh kasih, observas, dan keprihatinan mendalam terhadap hubungan antar sesama manusia terhadap alam dunia dan kesadaran suramnya tentang kekuatan destruktif waktu, sehingga karyanya berupa elegi untuk dunia dan perayaan untuk pembusukan abadinya.

Leslie Norries telah mendapat penghargaan Cholmondeley Prize untuk puisi dan The David Higham Award and a Welsh Arts Council Prize untuk koleksi cerita. Edward Lucie – Smith mengamati dalam buku kumpulan puisi Lesliie Norries sebelumnya, Mountains Polecats Rheasants, irama yang luwes dalam kesatuan bangun diksi yang tidak dipaksakan halus tetapi gaya bicara alami…Sesuatu yang adalah lebih besar dari seluruh bagian.

Oleh: Wahyu Barata PW | Januari 8, 2019

DI MAINE*, SEPTEMBER

Segera sekarang, jendela-jendela badai

Akan menutup rumah-rumah pulau.

Burung-burung yang bersenandung diterbangkan,

Orang-orang musim panas dalam perjalanan ke selatan

Menuju dollar pemanasan mereka.

Kapal-kapal layar kecil cantik,

Memantul di troli-troli,

Beranjak ke musim dingin terlindungi.

Pemutihan peraknya

Terpaut pada rerumputan musim panas

Dan gelombang bunga-bunga dandelion,

Sebuah kapal tua berlabuh di ketenangan

Di belakang titik panjang.

Adalah binatang kelelahan,

lini-lini garisnya garis-garis paus

Untuk menggada, untuk membelah air.

Maine* : negara bagian di Amerika Serikat. Negara bagian ini mungkin diberi nama atas nama Provinsi Maine di Perancis. Kemungkinan lainnya karena orang-orang yang tinggal di pulau-pulau sekitarnya biasa mengatakan akan pergi ke daratan (“going over to the Main”). Singkatan pos Amerika Serikatnya adalah ME,Empat kapal Angkatan Laut Amerika Serikat dinamai USS Maine sebagai penghormatan  kepada negara bagian ini. Negara bagian ini biasanya dingin, meskipun musim panas yang hangat bisa di atas 80 derajat Fahrenheit selama rata-rata 15 hari di bulan Juli.

Puisi Leslie Norries yang berjudul  Di Maine, September (In Maine September) diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Wahyu Barata PW. dari buku kumpulan puisi karya Leslie Norries yang berjudul Water Voices. Buku kumpulan puisi ini diterbitkan oleh Chatto and Windus Ltd. with The Hogarth Press Ltd. 40 William IV  Street London WC24DF.Clarke, Irwin & Co Ltd. Toronto.Lesliie Norries mempublikasikan puisi-puisinya di The Athlantic Monthly, The Anglo-Welsh Review, Delta, Limestone, The London Magazine, The New Statesmen, The New Yorker, PEN New Poems 1973-1974, 1976-1977, Poetry Nothwest, Poetry Wales, The Scotsman and The Poetry Book Society Supplement for Christmas ’75, juga di BBC, ITV, The Globe Play House Trust, The South East Arts Association, Poetry Dimension and The Tidal Press Maine.”At The Sea ‘s Edge in Pembrokeshire” ditugaskan untuk Perayaan Ulang Tahun ke 900 Katedral Winchester.Dalam puisi-puisi yang ditulisnya mennujukkan hidup Leslie Norries penuh kasih, observas, dan keprihatinan mendalam terhadap hubungan antar sesama manusia terhadap alam dunia dan kesadaran suramnya tentang kekuatan destruktif waktu, sehingga karyanya berupa elegi untuk dunia dan perayaan untuk pembusukan abadinya.Leslie Norries telah mendapat penghargaan Cholmondeley Prize untuk puisi dan The David Higham Award and a Welsh Arts Council Prize untuk koleksi cerita. Edward Lucie – Smith mengamati dalam buku kumpulan puisi Lesliie Norries sebelumnya, Mountains Polecats Rheasants, irama yang luwes dalam kesatuan bangun diksi yang tidak dipaksakan halus tetapi gaya bicara alami…Sesuatu yang adalah lebih besar dari seluruh bagian.       

memuat Disqus …




Oleh: Wahyu Barata PW | Januari 8, 2019

MENJADI PENGANTIN LAKI-LAKI

Puisi ini berdiri di atas kaki-kaki

tegasnya. Cakar-cakarnya diajukan, sikat

dan kari* – sisir telah bekerja

dengan pengantin laki-laki mendesis untuk memoles

lemparan halusnya. Setiap pagi, rambut

demi rambut sudah kucabut habis setiap kelebihan

kecil; pasti tak ada jejak

pencukuran, dan semua terasa alami

Hal ini dikondisikan untuk berjalan, bergiliran

dengan tali yang sudah rapuh, ayunan

tanpa upaya untuk berburu

trans kegirangan. Sekarang kubersihkan

gigi di rahang singa

dengan sikat tua. Aku akan mengaturnya

liar di jalan berjalan, bertujuan

di hamstring, tenggorokan lembut.

Kari* : merapikan penampilan pengantin laki-laki.

Puisi Leslie Norries yang berjudul Menjadi Pengantin Laki-Laki (Grooming), diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Wahyu Barata PW. dari buku kumpulan puisi karya Leslie Norries yang berjudul Water Voices. Buku kumpulan puisi ini diterbitkan oleh Chatto and Windus Ltd. with The Hogarth Press Ltd. 40 William IV  Street London WC24DF.Clarke, Irwin & Co Ltd. Toronto.

Lesliie Norries mempublikasikan puisi-puisinya di The Athlantic Monthly, The Anglo-Welsh Review, Delta, Limestone, The London Magazine, The New Statesmen, The New Yorker, PEN New Poems 1973-1974, 1976-1977, Poetry Nothwest, Poetry Wales, The Scotsman and The Poetry Book Society Supplement for Christmas ’75, juga di BBC, ITV, The Globe Play House Trust, The South East Arts Association, Poetry Dimension and The Tidal Press Maine.

“At The Sea ‘s Edge in Pembrokeshire” ditugaskan untuk Perayaan Ulang Tahun ke 900 Katedral Winchester.

Dalam puisi-puisi yang ditulisnya mennujukkan hidup Leslie Norries penuh kasih, observas, dan keprihatinan mendalam terhadap hubungan antar sesama manusia terhadap alam dunia dan kesadaran suramnya tentang kekuatan destruktif waktu, sehingga karyanya berupa elegi untuk dunia dan perayaan untuk pembusukan abadinya.

Leslie Norries telah mendapat penghargaan Cholmondeley Prize untuk puisi dan The David Higham Award and a Welsh Arts Council Prize untuk koleksi cerita. Edward Lucie – Smith mengamati dalam buku kumpulan puisi Lesliie Norries sebelumnya, Mountains Polecats Rheasants, irama yang luwes dalam kesatuan bangun diksi yang tidak dipaksakan halus tetapi gaya bicara alami…Sesuatu yang adalah lebih besar dari seluruh bagian.

Oleh: Wahyu Barata PW | Januari 8, 2019

HARI NATAL

Kekeringan musim dingin, angin kencang

Membuncahkan lumpur. Membalut di jaket

Bersandar muram ke kesunyian

Ledakan itu lenyap seperti jeritan yang hilang

Semak berduri plum hitam, Kulewati

Parit kapur dari guguran. Daun-daun

Kering seperti keping-keping jagung retak di bawah

Gumboot*ku, perlindungan melawan

Bahuku. Butiran pasir terbang mereka

Debu memburu ladang-ladang penghabisan, es

Butir-butir gandum menempel di mataku. Tertangkap

Pada duri-duri, satu rip kertas koran

Menggigil ujung-ujung kuningnya, tumbuh

Panjang, lalu naik dengan mudahnya, kesempitan

Burung bangau, di luar bayangan. Naiknya

Menjejakkan kaki kurusnya, ke kedinginan

Matahari datar seperti tanah. Tegak lurus

Rentang-rentang sayap lebar, lengkung leher

Dan kepala dan putaran bilah besar

Jatuh ke payudara cahaya, di bertahan

Melawan duri, melawan musim dingin

Kegelapan, sebelum baling-baling pelannya

Menghantam sekali di atas pohon-pohon elm**,

Yang disalibkan Hari Natal, Hari Natal yang terbang.

Gumboot* : sepatu tinggi terbuat dari karet.

Pohon Elm** : salah satu jenis dari pohon-pohon genus Ulmus.

Puisi Leslie Norries yang berjudul Hari Natal (Chrismast Day) diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Wahyu Barata PW. dari buku kumpulan puisi karya Leslie Norries yang berjudul Water Voices. Buku kumpulan puisi ini diterbitkan oleh Chatto and Windus Ltd. with The Hogarth Press Ltd. 40 William IV  Street London WC24DF.Clarke, Irwin & Co Ltd. Toronto.

Lesliie Norries mempublikasikan puisi-puisinya di The Athlantic Monthly, The Anglo-Welsh Review, Delta, Limestone, The London Magazine, The New Statesmen, The New Yorker, PEN New Poems 1973-1974, 1976-1977, Poetry Nothwest, Poetry Wales, The Scotsman and The Poetry Book Society Supplement for Christmas ’75, juga di BBC, ITV, The Globe Play House Trust, The South East Arts Association, Poetry Dimension and The Tidal Press Maine.

“At The Sea ‘s Edge in Pembrokeshire” ditugaskan untuk Perayaan Ulang Tahun ke 900 Katedral Winchester.

Dalam puisi-puisi yang ditulisnya mennujukkan hidup Leslie Norries penuh kasih, observas, dan keprihatinan mendalam terhadap hubungan antar sesama manusia terhadap alam dunia dan kesadaran suramnya tentang kekuatan destruktif waktu, sehingga karyanya berupa elegi untuk dunia dan perayaan untuk pembusukan abadinya.

Leslie Norries telah mendapat penghargaan Cholmondeley Prize untuk puisi dan The David Higham Award and a Welsh Arts Council Prize untuk koleksi cerita. Edward Lucie – Smith mengamati dalam buku kumpulan puisi Lesliie Norries sebelumnya, Mountains Polecats Rheasants, irama yang luwes dalam kesatuan bangun diksi yang tidak dipaksakan halus tetapi gaya bicara alami…Sesuatu yang adalah lebih besar dari seluruh bagian.

Oleh: Wahyu Barata PW | Januari 8, 2019

DEMAM MALARIA

Itu pasti malaria –

pengambulan urat nadi

di sepanjang rentang lengannya,

jepitan-jepitan besi

di banyak titik – sel tubuh.

Perempuan itu berbaring dengannya di antara  penyakit;

menekan ke pelipisnya

ujung pergelangan tangannya yang malas

membawakannya Myrh*

di talam terbakar.

Begitu jelas mereka membuatkannya,

obat-obat penawar demam :

Kaki jatuhnya dokter yang diperbesar,

aplikasi melengkungkan – kaca-kaca

di atas gema ruangan tempat tangga

Mesin kerek dan lorong,

alat sel-sel khayalan;

ambin gang di sebrang ruangan besi

untuk siapa saja yang takkan pernah melewatinya

jembatan jungkat ke taman – gantung

Tak satupun ini dapat dikatakannya kepada perempuan itu –

bahwa semua yang dilihatnya sekilas itu

tali temali perancah

bukan lukisan dinding – para pelukis,

tetapi perasaan gamang para penyidik dari

darah – mengalir;

yang ketika dia memegang erat perempuan itu

itu bukan igauan

tetapi humor sekejap mata –

derita tak terkira, mati sebagai ilmu pasti.

hanya setelah setiap krisis, dapat dia bicara

meski mendadak sedikit hilang bunyi cahaya

seperti perempuan itu melempar kembali kamera

pengatur cahaya

dan dia merasakan berat cahaya matahari

di dada perempuan itu yang tak terlihat.

                                               (Pauline Stainer)

Myrh* : Dalam bahasa Indonesia disebut minyak Mur atau kemenyan putih. Secara umum berfungsi sebagai peningkat spiritualitas dan meningkatkan kualitas meditasi, dapat digunakan sebagai media healing yang bagus (digunakan bangsa Yunani – Romawi). Myrh juga mengatasi rasa ketakutan, kegelisahan, ketidakpastian emosional, dan kecenderungan untuk berperilaku berlebihan.

Ada dua jenis Myrh :

1). Indian Myrh (GUGGULU), Indian Bedellium (E), Indian Myrh (E), Guuggul (H) Sanskrit – Guggulu, Deva -dhupa,Latin commiphora mukul – Resin (Burseraceae).

2). Myrh Myrh (E), Bedellium gum (E), Bol (H) Sanskrit Bola, Daindhava, Rasagandha, Latin Commiphora myrha/mol-mol – Resina (Burseraceae)

Puisi berjudul Demam Malaria karya Pauline Stainer diterjemahkan oleh Wahyu Barata PW dari Buku Kumpulan PuisiThe Poetry Book Society Anthology 1988-1989, disunting oleh David Constantine.
Puisi-puisi karya para penyair  Hutchinson ini edisi pertamanya dipublikasikan tahun 1988 oleh Hutchinson, an imprint of Century Hutchinson Ltd., Brookmount House, 62-65 Chandos Place, London WC2N4NW, dan oleh The Poetry Book Society Ltd.,21 Earl Court Square, London
SW-5 Century Hutchinson Australia (Pty) Ltd

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.LABEL 

fiksiana

fiksi

puisi

Older Posts »

Kategori